Banyak yang bertanya kepada saya baik melalui email, SMS atau komentar di blog tentang sebuah kenyataan dimana banyak orang yang jarang beribadah namun nampak lebih kaya. Seperti ungkapan salah satau sahabat blog saya berikut ini.
"Temen dan saudara saya yang jarang sholat apalagi zikir dan tanpa amalan-amalan tertentu, bisa kaya dan makmur hidupnya. malah yang sering sholat dan zikir hidupnya biasa-biasa saja"
Memang begitulah kenyataannya, kita sering melihat banyak orang yang jarang berdoa dan beribadah justru rezekinya melimpah, sedangkan kita yang berusaha menjadi orang baik, sering berdoa dan taat beribadah justru rasanya sulit sekali untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Mengapa bisa demikian?
Terlebih dahulu saya akan sedikit membahas mengapa mereka yang jarang beribadah nampak lebih kaya hidupnya. Kalau dilihat secara materi memang demikian adanya, namun jika kita melihat hati belum tentu mereka merasa bahagia. Sebanyak apapun materi yang didapatkan tidak akan pernah menghilangkan dahaganya. Sebenarnya sederhana saja kalau tujuannya hanya metari. Silahkan bekerja keras dan jangan pedulikan hala dan haram. Kita akan sepakat siapa yang bekerja keras akan mendapatkan hasil dari apa yang sudah mereka usahakan.
Namun tentunya kita tidak menginginkan sekedar mempunyai materi berlimpah sebagai tujuan utama. Kita sudah membahasnya dari awal tentang tujuan hidup sejati yakni bermanfaat untuk semesta alam dalam bingkai Ridho Ilahi. Inilah prinsip yang harus terpatri kuat dalam sanubari. Kalau kemudian dalam prosesnya banyak ujian yang harus dihadapi, ya hadapi saja dengan ikhlas sebagai sebuah syarat kepantasan.
Makanya ketika kita beribadah dan berdoa coba tanyakan pada hatimu. Apakah ibadah dan doa tersebut sudah mampu untuk membuka hati ataukah belum. Karena rasanya tidak mungkin jika hati sudah tersetrum keyakinan akan doa namun hidupnya tidak berubah menjadi lebih baik. Kesimpulannya banyak yang berdoa dan beribadah namun kering dari substansi. Hati masih lalai. Mereka tidak secara sadar mengajak hati ketika berdoa dan beribadah yang pada akhirnya tidak menimbulkan rasa ikhlas, tawakal, sabar dan lain sebagainya sebagai indikasi sebuah keyakinan.
"Temen dan saudara saya yang jarang sholat apalagi zikir dan tanpa amalan-amalan tertentu, bisa kaya dan makmur hidupnya. malah yang sering sholat dan zikir hidupnya biasa-biasa saja"
Memang begitulah kenyataannya, kita sering melihat banyak orang yang jarang berdoa dan beribadah justru rezekinya melimpah, sedangkan kita yang berusaha menjadi orang baik, sering berdoa dan taat beribadah justru rasanya sulit sekali untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Mengapa bisa demikian?
Terlebih dahulu saya akan sedikit membahas mengapa mereka yang jarang beribadah nampak lebih kaya hidupnya. Kalau dilihat secara materi memang demikian adanya, namun jika kita melihat hati belum tentu mereka merasa bahagia. Sebanyak apapun materi yang didapatkan tidak akan pernah menghilangkan dahaganya. Sebenarnya sederhana saja kalau tujuannya hanya metari. Silahkan bekerja keras dan jangan pedulikan hala dan haram. Kita akan sepakat siapa yang bekerja keras akan mendapatkan hasil dari apa yang sudah mereka usahakan.
Namun tentunya kita tidak menginginkan sekedar mempunyai materi berlimpah sebagai tujuan utama. Kita sudah membahasnya dari awal tentang tujuan hidup sejati yakni bermanfaat untuk semesta alam dalam bingkai Ridho Ilahi. Inilah prinsip yang harus terpatri kuat dalam sanubari. Kalau kemudian dalam prosesnya banyak ujian yang harus dihadapi, ya hadapi saja dengan ikhlas sebagai sebuah syarat kepantasan.
Makanya ketika kita beribadah dan berdoa coba tanyakan pada hatimu. Apakah ibadah dan doa tersebut sudah mampu untuk membuka hati ataukah belum. Karena rasanya tidak mungkin jika hati sudah tersetrum keyakinan akan doa namun hidupnya tidak berubah menjadi lebih baik. Kesimpulannya banyak yang berdoa dan beribadah namun kering dari substansi. Hati masih lalai. Mereka tidak secara sadar mengajak hati ketika berdoa dan beribadah yang pada akhirnya tidak menimbulkan rasa ikhlas, tawakal, sabar dan lain sebagainya sebagai indikasi sebuah keyakinan.
0 Comments for "Mintalah Fatwa Pada Hatimu (Istafti Qalbak)"