Cara Mencari Kebenaran

Mencari kebenaran adalah sebuah perjalanan yang tidak singkat. Mencari kebenaran adalah masalah hati yang yakin. Namun sebelumnya sudah melalui proses yang panjang. Yang benar itu adalah benar yang salah adalah salah. Maka carilah substansinya. Kita mempunyai akal yang bisa menimbang, menganalisa, mencerna, kemudian menyimpulkan. Kesimpulan tersebut menjadi sebuah keyakinan. Ia adalah iman.



Maka untuk mencari kebenaran tundukkan nafsu anda terlebih dahulu. Tundukkan hati anda juga. Jauhi kedengkian, kesombongan dan lain sebagainya. Niatkan dengan tulus dan lurus hati untuk mencari kebenaran kemudian menerimanya. Gunakan panca indera untuk belajar, gunakan akal untuk menganalisa dan terakhir gunakan hati untuk memahami dan meyakini. Inilah siklusnya.

Jangan merasa kalau sudah hapal banyak hadist dan banyak surah dalam kitab suci kemudian kita yakin kalau kita sudah beriman. Karena diluar sana banyak sekali para pendeta, romo, rahib dan lain sebagainya yang hapalannya lebih banyak. Jangan merasa kalau anda pendeta yang hapalan alkitab kemudian sudah berada dijalan kebenaran. Ini kesombongan. Diluar sana bahkan banyak muslim yang sudah hapal alkitab diluar kepala.

Saya malah salut sama atheis yang sudah menggunakan panca indera untuk melihat, mendengar dan merasakan. Mereka belajar dengannya. Mereka menggunakan kecerdasan akalnya untuk membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Sebenarnya satu langkah lagi mereka akan membuktikan keberadaan Tuhan. Asalkan hati mau dibuka dan jujur mengakui kebenaran.

Iman itu masalah hati. Sebuah pengakuan dalam hati dijamin pasti jujur adanya. Kalau sesuatu yang salah berasal dari kecerdasan pikiran, karena kecerdasan otak ada batasnya. Maka jangan sampai memaksakan sesuatu yang belum bisa dijelaskan oleh otak agar menjadi rasional. Sampai kapanpun otak tidak akan mengetahui dan mampu menjelaskan ruh, malaikat, surga, neraka dan sebagainya, apalagi mengetahui tentang dzat Tuhan. Tetapi gunakanlah akal pada tempatnya. Analisalah data, fakta, bukti dan lain sebagainya menjadi sebuah premis atau kesimpulan. Gunakan data yang ada dan terbukti benar terlebih dahulu.

Jadi fungsi akal adalah menganalisa kebenaran, kemudian fungsi hati menerima kebenaran tersebut. Kalaupun ada sebuah fenomena, khabar, peringatan dan lain sebagainya yang belum bisa dicerna oleh akal maka itu tetap kebenaran. Ini terjadi jika sebelumnya sudah didahului dengan berita kebenaran secara susul menyusul dari sumber yang sama.

Hai muslim, apakah anda merasa agama anda benar? Apakah sudah melalui sebuah proses pembelajaran yang komprehensif ataukah hanya angan-angan saja?. Apakah sudah melalui sebuah pengalaman atau ikut kata-kata ustadz saja?. Coba cek dalam hatimu apa ada ketulusan. Renungkanlah..

Hai kristen, apakah anda merasa agama anda benar? Apakah Yesus adalah tuhan itu benar atau hanya ingin memaksakan sebuah keyakinan saja? Apakah anda tulus dengan niat dan keyakinan anda atau hanya ingin membuktikan dengan berbagai cara bahwa andalah yang benar? Coba cek dalam hatimu apakah ada kedengkian? Renungkanlah

Hai atheis, apakah anda merasa pendapat anda adalah yang benar?. Kalau begitu tuhan adalah otak?. Atau apakah anda mengetahui seluruh detail penciptaan langit dan bumi? Atau anda hanya ingin supaya tidak terbebani dengan berbagai aturan dan syariat agama? Atau apakah anda hanya ingin bebas sebebas bebasnya? Renungkanlah.

Kalau begitu mulailah tundukkan hati kita seraya mengucap sebuah harapan. "Tuhan tunjukkan kepadaku kebenaran". "Tuhan kalau Engkau ada maka bantulah kami memahami eksistensi_Mu". "Tuhan Engkaulah Pencipta langit dan bumi, beri petunjuk kami untuk mengenal_Mu dengan benar"

Tundukkan hatimu dari penyakit kedengkian, kesombongan, pemaksaan dll



0 Comments for "Cara Mencari Kebenaran"

Back To Top